About

I'm sorry if you can't find what are you search and you need on my blog.

Senin, 16 Juli 2012

Malcolm X : Sepenggal Kisah Sang Detroid Red (1)

"the future belongs to those who prepare for it today"
Malcolm X

 
Malcolm X, saya rasa hampir tidak ada orang yang tidak mengenal dia, tokoh Afro-Amerika karismatik tersebut hampir 50 tahun yang lalu telah tiada, meskipun begitu namanya akan tetap abadi di dalam buku-buku sejarah sebagai pahlawan kaum kulit hitam di Amerika Serikat pada masa-masa gejolak luar biasa dalam negeri. Kita kesampingkan dulu pada masa ia bergabung dengan Nation of Islam dan pembelaan terhadap hak-hak kaum negro, sekarang saya akan bercerita tentang riwayat masa kecil sampai ia menjadi berandalan kota Detroit.

Awal Kehidupan
Terlahir di Omaha, Nebraska tanggal 19 Mei 1925, Malcolm kecil tercatat bernama Malcolm Little, anak keempat dari tujuh bersaudara dari pasangan Earl Little dan Louise Norton Little. Ayahnya adalah seorang pendeta di gereja baptist setempat, dan ibunya adalah ibu rumah tangga biasa yang meskipun afro-amerika namun berkulit lebih terang dari yang lain, dikarenakan ibunya merupakan korban pemerkosaan dari pria kulit putih. Earl Norton selain merupakan pendeta, dia adalah seorang aktivis dalam organisasi UNIA (Universal Negro Improvement Association) pimpinan Marcus Garvey yang mengayomi warga kulit hitam di Amerika. Sebagaimana halnya kaum minoritas lain di Amerika, keluarga Little sering mendapatkan teror dan hinaan dari para kaum rasialis, terutama organisasi rasial  Ku Klux Klan (KKK), yakni organisasi berjubah putih yang kesemua anggotanya adalah kaum kaukasia yang berpandangan bahwa kaum selain kulit putih bukanlah manusia yang layak. Sehingga keluarga Little pindah  dari kediamannya di Milwaukee, Wisconsin ke Lansing, di Michigan pada tahun 1926. Namun, Lansing juga bukan merupakan tempat yang aman bagi mereka, organisasi lainnya yang bernama Black Legion yang merupakan cabang dari KKK, adalah ancaman besar bagi mereka. Hasilnya, pada tahun 1929, rumah mereka dihanguskan dan puncaknya, ketika usia Malcolm baru menginjak 6 tahun, Earl dibunuh oleh mereka dengan menjatuhkannya di depan rel kereta trem pada saat trem sedang berjalan. Polisi dan pengadilan lebih memilih memutuskan bahwa Earl terpeleset dan terjatuh dibandingkan dugaan pembunuhan berencana. Seorang diri bekerja dan membesarkan ketujuh anaknya, sungguh hal yang sangat sulit bagi Louise, apalagi anak-anaknya dilaporkan sering mencuri di beberapa tempat. Pada akhirnya, karena nervous dan stres berlebihan, akhir tahun 1938 ia dimasukkan ke unit kejiwaan Kalamazoo State Hospital, dan anak-anaknya diasuh oleh orangtua dari keluarga yang berbeda-beda.

Malcolm Little kemudian melanjutkan sekolah menengahnya dimana dia adalah salah satu murid terpandai di sana dan bahkan terpilih menjadi presiden kelas. Pada tingkat ke-dua, ia keluar dari sekolahnya setelah wali kelasnya berujar bahwa cita-cita nya menjadi pengacara bukanlah hal yang realistis baginya sebagai seorang negro. Beberapa tahun kemudian, akhirnya ia menyadari bahwa ''dunia kulit putih" merupakan dunia yang tak akan mungkin bisa dimasuki oleh orang negro seberapapun cerdasnya mereka. Ketika berumur 15 tahun, ia meninggalkan keluarga angkatnya dan pindah ke rumah kakak perempuannya Ella Little Collins di Roxburry, Boston.

Kehidupan Kriminal
Roxburry, adalah kawasan menengah di boston, dan untuk pertama kali dalam hidupnya Malcolm melihat populasi kaum negro sangat banyak di tempat ini melebihi kulit putih, di Boston Malcolm sendiri akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di kereta api dan berganti-ganti pekerjaan selama rentang waktu 1943 dan 1946, bahkan pernah direkrut sebagai tentara untuk perang dunia kedua, meskipun tak pernah diizinkan bergabung karena sikap paranoid kulit putih terhadap negro yang takut senjatanya dicuri dan balik membunuh mereka . Pada tahun ini pula, Malcolm meninggalkan Boston untuk tinggal di Harlem, New York. Di kota ini kehidupannya hampir berubah total, ia segera menjadi penjudi, bandar narkoba, perampok, mafia, dan bisnis prostitusi. Selama periode inilah julukan "Detroit Red" muncul dikarenakan Michigan, tempat dia berasal dan rambutnya yang berwarna kemerahan, juga konon ia sering memakai jas dan topi berwarna merah ketika berada di jalanan (Denzel Washington, dalam Malcolm X tahun 1992). Juga pernah tercatat dalam biografinya, ia pernah berhubungan seks dengan sesama jenis.

Sepak terjang Malcolm dalam dunia kriminal berakhir, setelah ia terbukti melakukan tindak pencurian pada 12 Januari 1946 setelah pada akhir tahun 1945 ia bergabung dengan sebuah gang yang khusus melakukan tindak pencurian di rumah kulit putih di daerah Boston. Pada tanggal 27 Februari 1946 ia dijebloskan ke dalam penjara negeri Charlestown di Charlestown, Boston. Selama disini ia kerap mendapat julukan "Satan" karena pandangan ekstrimnya akan agama. Di tempat ini pula ia bertemu dengan seseorang bernama John Elton "Bimbi" Birmby yang kelak akan mempengaruhi hidupnya. Selain bersahabat, Bimby sering memberi nasehat bijak tentang mendidik dirinya sendiri, sampai-sampai Malcolm sering terlihat membaca bahkan ketika sampai lampu di dalam penjara telah lama dimatikan. Selain itu, Bimby juga mengajak Malcolm untuk bergabung ke dalam organisasi Nation of Islam (NoI), seperti UNIA dulu, organisasi ini juga mengayomi masyarakat kulit hitam namun dalam naungan Islam dan pemimpinnya Elijah Muhammad. Pemimpin perserikatan ini berpandangan bahwa kaum kulit hitam harus keluar dari dominasi kulit putih dan menghidupi dirinya sendiri, seringkali juga berpendapat bahwa kaum kulit putih adalah setan sebenarnya yang diciptakan oleh Tuhan. Malcolm sama sekali tidak tertarik akan organisasi ini sampai saudaranya, Reginald yang anggota NoI menulis surat dan berkata kepadanya "Malcolm, jangan pernah memakan daging babi dan merokok, aku melihatmu bagaimana kau akan bisa keluar dari penjara", kemudian Malcolm berhenti merokok dan ketika daging babi ada dalam menu hidangan di penjara, ia menolak memakannya.

Bergabung dengan Nation of Islam
Sampai ketika Reginald, mengunjungi penjara, ia dijelaskan secara rinci bagaimana organisasi ini berpandangan bahwa kaum kaukasia adalah kaum para setan. Setelahnya, ia menyadari bahwa kulit putih yang pernah berhubungan dengan kehidupannya memang selalu bertindak tak adil, tamak, licik dan sifat buruk lainnya. Malcolm kemudian membuka diri dengan agama dan mulai menyetujui untuk bergabung dengan NoI, seluruh saudaranya yang merupakan anggota organisasi ini senang dengan keinginannya bergabung dan bersedia membantunya untuk segera bergabung. Atas upaya kakak perempuannya, pada Februari 1948 Malcolm dipindahkan ke penjara koloni Norfolk, sebuah penjara percontohan di Massachusetts yang memiliki perpustakaan yang sangat besar, disini ia menulis surat kepada Elijah Muhammad. Muhammad menyetujuinya dengan syarat ia berserah diri dan bersujud kepada Allah dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan kriminalnya di masa lampau. Malcolm, yang suka melawan dan selalu berpandangan skeptis, merasa bahwa bersujud merupakan hal yang sangat sulit dilakukan. Akhirnya ia bisa melakukan sujud dan masuk ke organsasi NoI, dan pada tahun 1952 ia dibebaskan dari penjara setelah ia sering surat-menyurat secara rutin dengan Muhammad. Tercermin akan waktu lama yang ia habiskan di penjara, ia berkata " Berkat pengajaran dari Muhammad, komunikasi dengannya, dan para tamuku, terutama Ella dan Reginald dan kebiasaan membaca buku, serta tak pernah berpikiran sedang berada dalam penjara, sesungguhnya aku tak akan pernah bisa merasa bebas secara hakiki dalam hidupku".

Bersambung...






Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Ads

Banner